Jumat, 02 Mei 2014

Metode Filsafat I Hipotesis




Tahap kedua dalam metode filsafat setelah pendahuluan pengamatan terhadap fakta-fakta adalah pemecahan terhadap masalah. Ini adalah apa yang Dewey sebut dengan “anjuran” (“suggestion”). Hal ini disebut juga dengan hipotesis atau teori sementara (provisional theory). Acapkali hipotesis menjadi seperti pengetahuan sekilas, cepat atau tiba-tiba (a flash of insight) yaitu semacam intuisi atau ilham dalam mengatakan masalah. Hipotesis ini mendudukkan betapa pentingnya observasi yang teliti dan sabar tentang berbagai fakta yang mendahului dan mengikuti ‘anjuran’. Hipotesis bisa datang setelah observasi pendahuluan pada sejumlah fakta dalam situasi yang sudah ditentukan. Hipotesis ini bisa juga muncul setelah bertahun-bertahun melaksanakan investigasi laboratorium atau setelah berbulan-bulan lebih dengan letih membuat daftar (catalog) berbagai hasil observasi dengan hati-hati. Hipotesis juga bisa muncul pada saat-saat paling awal penyelidikan atau investigasi. Hipotesis memberikan petunjuk kerja dari dan memperbesar semangat riset atau penelitian. Fungsi pikiran kita dalam jalan yang demikian itu adalah bahwa kita harus memiliki teori dalam bekerja.

Teori mungkin salah dan akan harus dibuang ketika eksperimen dan observasinya yang lebih lanjut telah menggagalkan dengan pengujiannya. Teori harus diuji ketika hakekat persoalan pengujian (verifikasi) memungkinkan untuk dilaksanakan akan tetapi jika beberapa macam pengujian tidak mungkin dilakukan maka riset segera kehilangan daya tariknya. Dalam verifikasi proses logika melibatkan penalaran deduktif. Kita menduga dan mengandaikan sesaat bahwa teori kita atau “perkiraan” (“guess”) kita benar dan kita menyimpulkan akibat atau konsekuensinya lalu dengan solid membandingkan implikasi teori dengan fakta aktual. Ini ialah sebuah proses berpikir jika---maka. Jika teori benar maka hal-hal atau benda-benda anu akan mengikutinya. Apakah hal-hal ini tepat dengan fakta?

Di pertengahan jalan di antara berbagai pangkalan, mesin mobil kamu mogok. Kamu dengan cemas mencari sebabnya. Untuk menemukan sebabnya merupakan “masalah”. Beberapa orang memberi “saran”. Mungkin setiap orang dari sekelompok orang itu mengajukan satu usul. Gas rusak, sambungan putus, seher (piston) macet, pipa bensin tersumbat. Kamu mengambil saran yang paling menjanjikan kemudian mencobanya (try it out). “Mencoba” (trying it out) berarti menarik kesimpulan dari berbagai konsekuensi teori dan membandingkan mereka dengan berbagai fakta. Jika tidak terbukti kamu bisa mencoba saran yang lainnya.

Seorang dokter dipanggil untuk memeriksa pasien yang sakit. Berusaha menemukan sebab masalah atau karakter penyakit adalah “persoalan”nya. Dia membuat beberapa observasi pendahuluan tentang berbagai fakta, mengajukan pertanyaan, memeriksa urat nadi dan (temperature) suhu. Lalu sebuah “bisikan” datang padanya---demam tipus. Jika penyakit ini adalah tipes maka berbagai gejala tertentu yang tersembunyi akan muncul. Dia menegaskan ini dengan membuat test lalu menguji hipotesisnya dan atau menyangkalnya.

Metode di atas adalah metode berfikir reflektif dalam kehidupan sehari-hari kita. Metode ini juga merupakan metode yang dengannya berbagai penemuan besar dalam sain telah dibuat. Metode reflektif ini adalah metode yang secara umum harus digunakan dalam penyelidikan filsafat.

Sebuah pertanyaan akan muncul dengan sendirinya, apakah mungkin metode ini digunakan dalam filsafat. Artinya, bagaimana kita dapat mengaplikasikannya metode tersebut di atas pada persoalan kehidupan yang paling besar yakni tentang Tuhan, dunia dan jiwa atau ruh? Bukanlah verifikasi atau pembuktian merupakan bagian paling penting dari sebuah metode? Apakah verifikasi mungkin dilakukan berkenaan dengan persoalan-persoalan yang luas di dunia ini? Tidakkah filsafat dalam bahaya ketika menjadi spekulatif semata karena verifikasi tidak mungkin dilakukan?

Dalam menjawab pertanyaan di atas saya pikir kita bisa mengatakan bahwa metode yang sedang dibicarakan ini adalah semata-mata metode berfikir reflektif. Betapa tidak, ada persoalan kita yang paling dalam dan besar selain kita harus merefleksikan persoalan-persoalan tersebut. Yang jelas kita tidak memaksudkan bahwa penyelidikan filsafat dibatasi oleh metode ini. Kita akan melihat dengan segera cara lain dalam studi filsafat, seperti misalnya analisis logis, analogi, dan metode historis. Tetapi bagian filsafat yang paling berguna, konstruktif dan paling memiliki daya tarik bagi kita adalah setelah kita mempergunakan seluruh analisis kritis dan studi tentang sejarah mengenai pokok bahasan kita karena kita masih harus melanjutkan untuk merefleksikannya dan keberhasilan refleksi kita akan berada dalam proporsi atau ukuran yang sama dengan observasi kita yang teliti dan tidak memihak kepada baik pengalaman kita yang luas dan bermacam-macam atau pun intuisi kita yang dalam.

Sesuatu yang sangat penting lagi aneh yang terletak pada bagian metode ilmiah adalah sesuatu yang berupa usulan, saran atau anjuran (suggestion). Ia semacam pengetahuan sekilas dan tiba-tiba dalam rangka memecahkan atau menyelesaikan persoalan. Ini merupakan tempat di mana otak dan pengalaman berperan.

Ketika mesin mobil kita mogok, banyak “saran” yang tolol, ceroboh dan nekad yang diperoleh. Seseorang dalam sekelompok orang akan membuat saran yang berguna dan orang ini akan menjadi seorang yang “bijaksana”. Kebijaksanaan-nya akan diperbuat, sebagian dalam pengalamannya dengan mesin mobil dan sebagian lagi dengan kerja otak. Penemuan terbesar dalam sain dan filsafat telah dilakukan oleh orang besar. Siapa pun dapat melihat buah apel jatuh. Hanya otak yang besar lagi cerdas seperti Newton yang dapat merancang teori gravitasi. Kekuatan pikiran yang luar biasa terlihat sangat jelas dalam sebuah investigasi seorang fisikawan zaman ini dalam bidang hakekat elektris atom dan investigasi yang dilakukan seorang ahli matematika pada teori relativitas. Ini adalah kuasa kreatif pemikiran, kadang-kadang disebut imajinasi kreatif. Dalam bentuk tertingginya, ia nampak seperti sebuah anugrah istimewa pada orang jenius yaitu semacam inspirasi atau visi. Wiliam James menyebutnya kebijaksanaan (Sagacity). 

Tetapi visi kebenaran tidak datang dari sagacity harus mencakup pengalaman. Orang yang bijaksana (the “wise” man) dalam filsafat dan sain tidak semata-mata bertindak sebagai peramal (the “seer”). Orang bijaksana adalah manusia yang mengetahui juga manusia yang mengerti. Seseorang yang cepat mendeteksi kerusakan mesin mobilnya adalah orang yang memiliki pengalaman dengan mesin, terbiasa dengan sifat dan kebiasaan mesin tersebut. Jadi yakin, ilmuwan besar adalah manusia berotak cerdas tetapi dia juga biasanya manusia yang benar-benar mengetahui tentang keseluruhan adat, sifat dan sejarah sainnya. Maka filsuf besar akan menjadi orang yang tidak hanya memiliki wawasan luas tetapi juga manusia yang kaya akan pengalaman dan berpengetahuan dalam tentang kehidupan.

Metode filsafat itu memang empiris. Teori kita harus bisa membuka pengalaman sekaligus bisa diuji oleh pengalaman. Suatu pengujian yang penting sekali dalam laboratorium fisika bisa tidak mungkin dilakukan tetapi dalam laboratorium kehidupan, hipotesis harus menemukan cara untuk menguji atau mem-verifikasinya, berbagai kegagalan dalam sejarah filsafat telah banyak terjadi. Sebagian besar karena mengabaikan sentuhan akhir kehidupan yang begitu esensial. Teori filosofis yang mewarisi konflik, dengan tidak menerima prinsip-prinsip sain atau filsafat sebelumnya, merupakan teori filosofis yang konsisten pada dirinya sendiri (self-consistent).

Ternyata teori yang dimaksud di atas terbentuk hanya setelah dilakukan analisis objektif, tidak memihak dan sangat hati-hati pada semua faktor yang dilibatkan juga setelah dilakukan pertimbangan yang sedalam-dalamya terhadap pengalaman manusia, untuk itu ia telah diuji seluas-luasnya. Pertimbangan yang luas dan dalam, kerja yang memuaskan juga prestise yang itu mungkin dicapai karena keberhasilan prestasi ilmiah terhadap para pendukungnya, semuanya merupakan tahap-tahap dalam proses verifikasi.

Metode berfikir reflektif ini sebagaimana baru saja kita uraikan adalah sebuah metode yang telah diselesaikan filsafat secara konstruktif (membangun). Barangkali para mahasiswa akan mengatakan: “Saya tidak berharap melakukan kerja yang sifatnya membangun atau konstruktif. Saya hanya ingin tahu tentang filsafat. Saya hanya berusaha untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan saya dan untuk mencari keyakinan atau memantapkan atas segala keraguan saya.” Tetapi untuk mempelajari tiada cara lain kecuali dengan berfilsafat. Dalam suatu ruang perkuliahan pada salah satu universitas di Amerika terdapat motto yang mengatakan, bukan filsafat tapi berfilsafat (not philosophy, but to philosophize) ού φιλοσοφια άλλά φιλοσοφείυ. Artinya yang penting bagi kita adalah berpikir tentang pertanyaan besar kehidupan yang kita anggap baik daripada studi tentang berbagai pemikiran orang lain. 

Sumber : Buku Filsafat

Tidak ada komentar:

Kisah Mata Air Keabadian

Kisah ini diriwayatkan oleh Ats-Tsa’labi dari Imam Ali ra. Pada zaman dahulu hiduplah seorang hamba Allah SWT yang melebihkan kepada d...