Tahap kedua
dalam metode filsafat setelah pendahuluan pengamatan terhadap fakta-fakta
adalah pemecahan terhadap masalah. Ini adalah apa yang Dewey sebut dengan
“anjuran” (“suggestion”). Hal ini
disebut juga dengan hipotesis atau teori sementara (provisional theory). Acapkali hipotesis menjadi seperti pengetahuan
sekilas, cepat atau tiba-tiba (a flash of
insight) yaitu semacam intuisi atau ilham dalam mengatakan masalah.
Hipotesis ini mendudukkan betapa pentingnya observasi yang teliti dan sabar
tentang berbagai fakta yang mendahului dan mengikuti ‘anjuran’. Hipotesis bisa
datang setelah observasi pendahuluan pada sejumlah fakta dalam situasi yang
sudah ditentukan. Hipotesis ini bisa juga muncul setelah bertahun-bertahun melaksanakan
investigasi laboratorium atau setelah berbulan-bulan lebih dengan letih membuat
daftar (catalog) berbagai hasil
observasi dengan hati-hati. Hipotesis juga bisa muncul pada saat-saat paling
awal penyelidikan atau investigasi. Hipotesis memberikan petunjuk kerja dari
dan memperbesar semangat riset atau penelitian. Fungsi pikiran kita dalam jalan
yang demikian itu adalah bahwa kita harus memiliki teori dalam bekerja.
Teori mungkin
salah dan akan harus dibuang ketika eksperimen dan observasinya yang lebih
lanjut telah menggagalkan dengan pengujiannya. Teori harus diuji ketika hakekat
persoalan pengujian (verifikasi) memungkinkan untuk dilaksanakan akan tetapi
jika beberapa macam pengujian tidak mungkin dilakukan maka riset segera
kehilangan daya tariknya. Dalam verifikasi proses logika melibatkan penalaran
deduktif. Kita menduga dan mengandaikan sesaat bahwa teori kita atau
“perkiraan” (“guess”) kita benar dan kita menyimpulkan akibat atau
konsekuensinya lalu dengan solid membandingkan implikasi teori dengan fakta
aktual. Ini ialah sebuah proses berpikir jika---maka. Jika teori benar maka
hal-hal atau benda-benda anu akan mengikutinya. Apakah hal-hal ini tepat dengan
fakta?
Di pertengahan
jalan di antara berbagai pangkalan, mesin mobil kamu mogok. Kamu dengan cemas
mencari sebabnya. Untuk menemukan sebabnya merupakan “masalah”. Beberapa orang
memberi “saran”. Mungkin setiap orang dari sekelompok orang itu mengajukan satu
usul. Gas rusak, sambungan putus, seher (piston)
macet, pipa bensin tersumbat. Kamu mengambil saran yang paling menjanjikan
kemudian mencobanya (try it out). “Mencoba”
(trying it out) berarti menarik
kesimpulan dari berbagai konsekuensi teori dan membandingkan mereka dengan
berbagai fakta. Jika tidak terbukti kamu bisa mencoba saran yang lainnya.
Seorang dokter
dipanggil untuk memeriksa pasien yang sakit. Berusaha menemukan sebab masalah
atau karakter penyakit adalah “persoalan”nya. Dia membuat beberapa observasi
pendahuluan tentang berbagai fakta, mengajukan pertanyaan, memeriksa urat nadi
dan (temperature) suhu. Lalu sebuah
“bisikan” datang padanya---demam tipus. Jika
penyakit ini adalah tipes maka berbagai gejala tertentu yang
tersembunyi akan muncul. Dia menegaskan ini dengan membuat test lalu menguji
hipotesisnya dan atau menyangkalnya.
Metode di atas
adalah metode berfikir reflektif dalam kehidupan sehari-hari kita. Metode ini
juga merupakan metode yang dengannya berbagai penemuan besar dalam sain telah
dibuat. Metode reflektif ini adalah metode yang secara umum harus digunakan
dalam penyelidikan filsafat.
Sebuah
pertanyaan akan muncul dengan sendirinya, apakah mungkin metode ini digunakan
dalam filsafat. Artinya, bagaimana kita dapat mengaplikasikannya metode
tersebut di atas pada persoalan kehidupan yang paling besar yakni tentang
Tuhan, dunia dan jiwa atau ruh? Bukanlah verifikasi atau pembuktian merupakan bagian
paling penting dari sebuah metode? Apakah verifikasi mungkin dilakukan
berkenaan dengan persoalan-persoalan yang luas di dunia ini? Tidakkah filsafat
dalam bahaya ketika menjadi spekulatif semata karena verifikasi tidak mungkin
dilakukan?
Dalam menjawab
pertanyaan di atas saya pikir kita bisa mengatakan bahwa metode yang sedang
dibicarakan ini adalah semata-mata metode berfikir reflektif. Betapa tidak, ada
persoalan kita yang paling dalam dan besar selain kita harus merefleksikan
persoalan-persoalan tersebut. Yang jelas kita tidak memaksudkan bahwa
penyelidikan filsafat dibatasi oleh metode ini. Kita akan melihat dengan segera
cara lain dalam studi filsafat, seperti misalnya analisis logis, analogi, dan
metode historis. Tetapi bagian filsafat yang paling berguna, konstruktif dan
paling memiliki daya tarik bagi kita adalah setelah kita mempergunakan seluruh
analisis kritis dan studi tentang sejarah mengenai pokok bahasan kita karena
kita masih harus melanjutkan untuk merefleksikannya dan keberhasilan refleksi
kita akan berada dalam proporsi atau ukuran yang sama dengan observasi kita
yang teliti dan tidak memihak kepada baik pengalaman kita yang luas dan
bermacam-macam atau pun intuisi kita yang dalam.
Sesuatu yang
sangat penting lagi aneh yang terletak pada bagian metode ilmiah adalah sesuatu
yang berupa usulan, saran atau anjuran (suggestion).
Ia semacam pengetahuan sekilas dan tiba-tiba dalam rangka memecahkan atau
menyelesaikan persoalan. Ini merupakan tempat di mana otak dan pengalaman
berperan.
Ketika mesin
mobil kita mogok, banyak “saran” yang tolol, ceroboh dan nekad yang diperoleh.
Seseorang dalam sekelompok orang akan membuat saran yang berguna dan orang ini
akan menjadi seorang yang “bijaksana”. Kebijaksanaan-nya akan diperbuat,
sebagian dalam pengalamannya dengan mesin mobil dan sebagian lagi dengan kerja
otak. Penemuan terbesar dalam sain dan filsafat telah dilakukan oleh orang
besar. Siapa pun dapat melihat buah apel jatuh. Hanya otak yang besar lagi
cerdas seperti Newton yang dapat merancang teori gravitasi. Kekuatan pikiran
yang luar biasa terlihat sangat jelas dalam sebuah investigasi seorang
fisikawan zaman ini dalam bidang hakekat elektris atom dan investigasi yang
dilakukan seorang ahli matematika pada teori relativitas. Ini adalah kuasa
kreatif pemikiran, kadang-kadang disebut imajinasi kreatif. Dalam bentuk
tertingginya, ia nampak seperti sebuah anugrah istimewa pada orang jenius yaitu
semacam inspirasi atau visi. Wiliam James menyebutnya kebijaksanaan (Sagacity).
Tetapi visi
kebenaran tidak datang dari sagacity
harus mencakup pengalaman. Orang yang bijaksana (the “wise” man) dalam filsafat dan sain tidak semata-mata bertindak
sebagai peramal (the “seer”). Orang
bijaksana adalah manusia yang mengetahui juga manusia yang mengerti. Seseorang
yang cepat mendeteksi kerusakan mesin mobilnya adalah orang yang memiliki
pengalaman dengan mesin, terbiasa dengan sifat dan kebiasaan mesin tersebut.
Jadi yakin, ilmuwan besar adalah manusia berotak cerdas tetapi dia juga
biasanya manusia yang benar-benar mengetahui tentang keseluruhan adat, sifat
dan sejarah sainnya. Maka filsuf besar akan menjadi orang yang tidak hanya
memiliki wawasan luas tetapi juga manusia yang kaya akan pengalaman dan
berpengetahuan dalam tentang kehidupan.
Metode filsafat itu
memang empiris. Teori kita harus bisa membuka pengalaman sekaligus bisa diuji
oleh pengalaman. Suatu pengujian yang penting sekali dalam laboratorium fisika
bisa tidak mungkin dilakukan tetapi dalam laboratorium kehidupan, hipotesis
harus menemukan cara untuk menguji atau mem-verifikasinya, berbagai kegagalan
dalam sejarah filsafat telah banyak terjadi. Sebagian besar karena mengabaikan
sentuhan akhir kehidupan yang begitu esensial. Teori filosofis yang mewarisi
konflik, dengan tidak menerima prinsip-prinsip sain atau filsafat sebelumnya,
merupakan teori filosofis yang konsisten pada dirinya sendiri (self-consistent).
Ternyata teori
yang dimaksud di atas terbentuk hanya setelah dilakukan analisis objektif,
tidak memihak dan sangat hati-hati pada semua faktor yang dilibatkan juga
setelah dilakukan pertimbangan yang sedalam-dalamya terhadap pengalaman
manusia, untuk itu ia telah diuji seluas-luasnya. Pertimbangan yang luas dan
dalam, kerja yang memuaskan juga prestise yang itu mungkin dicapai karena keberhasilan
prestasi ilmiah terhadap para pendukungnya, semuanya merupakan tahap-tahap
dalam proses verifikasi.
Metode berfikir
reflektif ini sebagaimana baru saja kita uraikan adalah sebuah metode yang
telah diselesaikan filsafat secara konstruktif (membangun). Barangkali para
mahasiswa akan mengatakan: “Saya tidak berharap melakukan kerja yang sifatnya
membangun atau konstruktif. Saya hanya ingin tahu tentang filsafat. Saya hanya
berusaha untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan saya dan untuk mencari
keyakinan atau memantapkan atas segala keraguan saya.” Tetapi untuk mempelajari
tiada cara lain kecuali dengan berfilsafat. Dalam suatu ruang perkuliahan pada
salah satu universitas di Amerika terdapat motto yang mengatakan, bukan
filsafat tapi berfilsafat (not philosophy,
but to philosophize) ού φιλοσοφια άλλά
φιλοσοφείυ. Artinya yang penting bagi kita adalah berpikir tentang
pertanyaan besar kehidupan yang kita anggap baik daripada studi tentang
berbagai pemikiran orang lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar