Jumat, 02 Mei 2014

Gambaran Planck tentang Metode Ilmiah





Dalam buku Max Planck yang diterbitkan baru-baru ini, Ke mana Sain akan Menuju? (Where Is Science Going?) Ada satu bab yang membahas tentang metode ilmiah. Bab ini menarik untuk mengetahui metode apa sesungguhnya yang dikejar oleh pendiri terkenal fisika quantum baru yang telah menyelesaikan begitu banyak pekerjaan untuk merevolusi fisika. Pertama, Planck menolak mentah-mentah teori kaum positif yang mengatakan bahwa kita tahu tak ada dunia apa pun di balik pengalaman inderawi yang dengan serta-merta kita miliki sendiri. Planck juga menolak bahwa kita tidak pernah berurusan dengan apa pun termasuk dunia ini artinya bagi kaum positif objek apa pun, misalnya sebuah rumah atau pohon adalah sekedar persepsi inderawi kita yang dengan serta-merta kompleks. Ini tidak berarti positivisme ingin mengatakan bahwa di belakang pengalaman inderawi terdapat objek yang betul-betul nyata.

Planck menolak teori positivistik ini dan percaya bahwa sain sekarang bersandar pada fondasi yang lebih stabil dan lebih luas atau lebih besar. Sain membuat rumusan hukum (postulat) bahwa ada dunia eksternal yang betul-betul nyata dengan bebas eksis (mewujud) pada proses mengetahui kita walaupun dunia ini tidak secara langsung bisa diketahui. Sain hanya bisa mengetahui secara tidak langsung dan pengetahuan lengkap tentang dunia eksternal merupakan tujuan sesungguhnya yang berusaha didekati oleh sain tetapi tidak pernah seluruhnya diperoleh. Artinya bahwa ilmuwan bisa sampai pada pengetahuan hakekat sekitar dunia fisik karena dengan menggunakan pengukuran. Dalam membuat ukuran ini dan dalam melakukan semua observasi dan eksperimen tersebut, kita harus menggunakan semua usaha untuk mengeluarrkan, membersihkan, mengeliminasi semua sumber kesalahan yang muncul dari akibat penggunaan berbagai alat penelitian (riset) kita atau dari kecenderungan subjektif (organ) alat tubuh inderawi kita. Pengukuran dan pengamatan (observasi) ini membawa bahan mentah di mana ilmuwan kemudian menggunakannya dalam usaha mengkonstruksi dan menggambar dunia eksternal.

Bagaimana gambar dunia eksternal diperoleh? Di sini semua hal-hal yang penting merupakan pekerjaan konstruktif dan penuh guna yang dilakukan oleh ilmuwan itu sendiri. Ilmuwan harus membuat beberapa hipotesis. Ilmuwan bisa memberi kebebasan pada semangat inisiatif yang dimilikinya dan memberikan kekuatan konstruktif pada imajinasi untuk berperan sebesar-besarnya. Ilmuwan harus mencoba mengorganisasikan ke dalam satu hukum, berbagai hasil eksperimen dan pengalamannya. Hipotesis harus dibebaskan dari inkoherensi logis batiniah. Berbagai deduksi yang diturunkan dari hipotesis harus bersesuaian dengan pengukuran riset dan eksperimen. Banyak teori yang menjanjikan gagal untuk mempertahankan ujian atau test ini dan harus ditolak selanjutnya ilmuwan harus menemukan yang baru.

Kita bisa lihat dari gambaran Planck tentang metode ilmiah, bagaimana sain itu sebagian besar muncul dari pikiran para ilmuwan. Hukum besar pada fisika datang dari orang besar. Penemuan revolusioner dalam fisika dan mikrofisika baru-baru ini mungkin telah dibuat tidak hanya oleh alat yang akurat, mengagumkan, baru dan eksperimen serta observasi yang sabar dan telaten tetapi melalui manusia jenius dan brilian itu sendiri seperti Planck, Einstein, Niels Bohr, Heisenberg, Hertz dan Schroedinger.

Tentu saja hal ini terjadi bukan karena intuisi brilian semata yang membuat ilmuwan besar menjadi seorang filsuf. Ketelatenan, kesabaran, kerajinan, kejujuran dan ketulusan hati juga menjadi perlengkapan penting yang memang harus dimiliki oleh mereka.

Seorang filsuf harus menjadi orang yang mau mendengarkan atas semua saran tetapi penilaian ditentukan oleh dirinya sendiri. Dia tidak akan dibiaskan oleh kenampakkan, tidak memiliki hipotesis favorit artinya tanpa mazhab. Dalam doktrin tidak memiliki guru. Dia tidak akan menjadi seseorang yang mengindahkan orang lain tetapi lebih mengindahkan berbagai dan banyak hal. Kebenaran harus menjadi tujuan utamanya. Jika semua kualitas ini di tambah dengan sifat rajin (kerajinan) maka dia tentu saja boleh berharap dapat berjalan dalam kabut rahasia kuil alam. 

Sumber : Buku Filsafat

Tidak ada komentar:

Kisah Mata Air Keabadian

Kisah ini diriwayatkan oleh Ats-Tsa’labi dari Imam Ali ra. Pada zaman dahulu hiduplah seorang hamba Allah SWT yang melebihkan kepada d...