Teori psikologi
kognitif adalah bagian terpenitng dari sains kognitif yang telah memberi
kontribusi yang sangat berarti dalam perkembangan psikologi pendidikan. Sains
kognitif merupakan himpunan disiplin yang terdiri atas: psikologi kognitif,
ilmu-ilmu komputer, linguistik, intelegensi buatan, matematika, epistemologi,
dan neuropsychology (psikologi
syaraf).
Pendekatan psikologi
kognitif lebih menekankan arti penting proses internal, mental manusia. Dalam
pandangan para ahli kognitif, tingkah laku manusia yang tampak tak dapat diukur
dan diterangkan tanpa melibatkan proses mental, seperti: motivasi, kesengajaan,
keyakinan, dan sebagainya.
Meskipun pendekatan
kognitif sering dipertentangkan dengan pendekatan behavioristik, tidak berarti
psikologi kognitif anti terhadap aliran behaviorisme. Hanya, menurut para ahli
psikologi kognitif, aliran behaviorisme ini tidak lengkap sebagai sebuah teori
psikologi, sebab tidak memperhatikan proses kejiwaan yang berdimensi ranah
cipta seperti berpikir, mempertimbangkan pilihan dan mengambil keputusan.
Selain ini, aliran behaviorisme juga tidak mau urusan ranah rasa.
Dalam perspektif
psikologi kognitif, belajar pada asasnya adalah peristiwa mental, bukan
peristiwa behavioral (yang bersifat jasmaniah) meskipun hal-hal yang bersifat
behavioral tampak lebih nyata dalam hampir setiap peristiwa belajar siswa.
Secara lahiriah, seorang anak yang sedang belajar membaca dan menulis,
misalnya, tentu menggunakan perangkat jasmaniah (dalam hal ini mulut dan
tangan) untuk mengucapkan kata dan menggoreskan pena. Akan tetapi, perilaku
mengucapkan kata-kata dan menggoreskan pena yang dilakukan anak tersebut bukan
semata-mata respons atas stimulus yang ada, melainkan yang lebih penting karena
dorongan mental yang diatur oleh otaknya. Sehubungan dengan hal ini, Piaget,
seorang pakar psikologi terkemuka, menyimpulkan: … Children have a built-in desire to learn (Barlow, 1985), bahwa
anak-anak memiliki kebutuhan yang melekat dalam dirinya sendiri untuk belajar.
Sementara itu, teori
filsafat pragmatisme yang dipelopori oleh William James (1842-1910) dan
teori-teori belajar yang bersumber dari eksperimen Pavlof, Thorndike, dan
Skinner, telah diambil sebagai landasan psikologi aliran behaviorisme di bawah
kepemimpinan John Broadus Watson (1878-1958). Aliran behaviorisme yang terkenal
radikal dan menantang itu kini sedang mengalami fase keruntuhannya. Karena kini
semakin banyak pakar psikologi kelas dunia yang merasa tidak puas terhadap
teori-teori behavioristik, apalagi setelah dibandingkan dengan hasil-hasil
riset para pakar psikologi (Reber, 1988).
Di antara keyakinan
prinsipal yang terdapat dalam teori behavioristik ialah setiap anak manusia
lahir tanpa warisan kecerdasan, warisan bakat, warisan perasaan, dan
warisan-abstrak lainnya. Semua kecakapan, kecerdasan, dan bahakan perasaan baru
timbul setelah manusia melakukan kontak dengan alam sekitar terutama alam
penididikan. Artinya, seorang individu manusia bisa pintar, terampil, dan
berperasaan hanya bergantung pada cara individu itu dididik.
Keyakinan prinsipal
lainnya yang dianut oleh para behavioris adalah peranan “refleks”, yakni reaksi
jasmaniah yang dianggap tidak memerlukan kesadaran mental. Apapun yang
dilakukan manusia, termasuk kegiatan belajar adalah kegiatan refleks belaka,
yaitu reaksi manusia atas rangsangan-rangsangan yang ada. Refleks-refleks ini
jika dilatih akan menjadi keterampilan-keterampilan dan kebiasaan-kebiasaan
yang dikuasai manusia. Jadi, peristiwa belajar seorang siswa menurut para
behavioris adalah peristiwa melatih refleks-refleks sedemikian rupa sehingga
menjadi kebiasaan yang dikuasai siswa tersebut.
Dalam perspektif
psikologi kognitif, peristiwa belajar yang digambarkan seperti tadi adalah naif
(terlalu sederhana dan tak masuk akal) dan sulit dipertanggungjawabkan secara
psikologis. Sebagai bukti dan bahan perbandingan, berikut ini penyusun
kemukakan dua contoh kritik terhadap kepercayaan behavioristik tadi.
Pertama, memang tak
dapat dimungkiri bahwa kebiasaan pada umumnya berpengaruh terhadap kegiatan
belajar siswa. Seorang siswa lazimnya menyalin pelajaran, juga dengan
kebiasaan. Gerakan tangan dan goresan pena yang dilakukan siswa tersebut
demikian lancarnya karena sudah terbiasa menulis sejak tahun pertama masuk
sekolah.
Perlu diingat bahwa
sebelum siswa tadi menyalin pelajaran dengan cara yang biasa ia lakukan, tentu
terlebih dahulu ia membuat keputusan mengenai ia akan menyalin pelajaran
sekarang, nanti, atau sama sekali tidak. Jadi, kebiasaan dapat berfungsi
sebagai pelaksana aktivitas menyalin pelajaran dari awal hingga akhir,
sedangkan “keputusan” berfungsi untuk menetapkan dimulainya aktivitas menyalin
pelajaran oleh siswa tadi dengan kebiasaan yang ia kuasai. Keputusan tersebut
tentu bukan peristiwa behavioral melainkan peristiwa mental siswa itu sendiri.
Kedua, kebiasaan
belajar seorang siswa dapat ditiadakan oleh kemauan siswa itu sendiri. Contoh: menurut
kebiasaan, seorang siswa belajar seharian di perpustakaan sambil mengunyah
permen. Tetapi, ketika tiba saat berpuasa pada bulan Ramadhan ia hanya belajar
setengah hari dengan tidak mengunyah permen. Dalam hal ini, pengurangan alokasi
waktu belajar dan penghentian kebiasaan mengunyah permen merupakan kemauan
siswa tersebut karena sedang menunaikan ibadah puasa. Kemauan siswa itu tentu
bukan perilaku behavioral.
Dari uraian contoh-contoh
di atas, semakin jelaslah bahwa perilaku belajar itu, dalam hampir semua bentuk
dan manifestasinya, bukan sekadar peristiwa S-R Bond (ikatan antara stimulus
dan respons) melainkan lebih banyak melibatkan proses kognitif. Hanya dalam
peristiwa belajar tertentu yang sangat terbatas ruang lingkupnya (umpamanya
belajar meniru sopan santun di meja makan dan bertegur sapa), peranan ranah
cipta siswa tidak menonjol.
Sumber : Psikologi
Pendidikan, Muhibbin Syah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar