Minggu, 11 Mei 2014

Proses Pembelajaran Matematika



Belajar merupakan kegiatan bagi setiap orang. Pengetahuan keterampilan, kebiasaan, kegemaran dan sikap seseorang terbentuk, dimodifikasi dan berkembang disebabkan belajar. Seseorang dikatakan belajar, bila dapat diasumsikan bahwa dalam diri orang itu terjadi suatu proses kegiatan yang mengakibatkan suatu perubahan tingkah laku (Hudojo, 1990: 1). Menurut Pasaribu dkk (1982: 21) belajar adalah suatu aktivitas yang bertujuan. Agar tujuan mendidik yang dirumuskan tercapai, maka pengajaran harus menimbulkan aktivitas dan kesadaran anak didik, sebab dengan aktivitas dapat diperoleh pengalaman baru yang kelak merupakan landasan.
            Menurut Pakasi dalam Simanjuntak (1992: 53) belajar merupakan suatu Interaction antara anak dan lingkungan. Dari lingkungannya si anak memilih apa yang ia butuhkan dan apa yang ia dapat ia pergunakan untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Menyediakan suatu lingkungan belajar yang kaya dengan stimulus (rangsangan-rangsangan) berarti membantu anak dalam pertumbuhan dan perkembangannya, lagi pula kesanggupan memilih apa yang anak butuhkan dan perlukan sesuai dengan minat dan kesanggupannya, membawa anak ke arah kesanggupan untuk mengarahkan diri.

            Menurut  Slameto dalam Hadis (2006: 60) mengemukakan bahwa: ”Belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi individu dengan lingkungannya”. Menurut Surya dalam Riduwan (2004: 198) menjelaskan belajar adalah suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dalam lingkungannya.
            Menurut G.A Kimble dalam Simanjuntak (1992: 38) mengemukakan belajar adalah perubahan yang relatif yang menetap dalam potensi tingkah laku yang terjadi sebagai akibat dari latihan dengan penguatan dan tidak termasuk perubahan-perubahan karena kematangan, kelelahan atau kerusakan pada susunan saraf, atau dengan kata lain bahwa mengetahui dan memahami sesuatu, sehingga terjadi perubahan dalam diri seseorang yang belajar. Menurut Howard dalam Abu Ahmadi dan widodo (2004: 127) memberikan definisi belajar yaitu Learning is the process by which behavior (in the broader sense) is orginated or changed through practice or training. Dari uraian dapat dikemukakan bahwa belajar adalah suatu proses di mana tingkah laku (dalam arti luas) ditimbulkan atau di ubah melalui praktek atau latihan.
            Belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku atau kecakapan manusia. Perubahan tingkah laku ini bukan di sebabkan oleh proses pertumbuhan yang bersifat fisiologis atau proses kematangan. Perubahan yang terjadi karena belajar dapat berupa perubahan-perubahan dalam kebiasaan (habit), kecakapan-kecakapan (skills) atau dalam ketiga aspek yakni pengetahuan (kognitif), sikap (affektif) dan keterampilan (psikomotor). Kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok dalam keseluruhan proses pendidikan. Hal ini mengandung arti, bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana proses belajar yang dialami oleh peserta didik atau siswa (Usman, 1993: 5).
            Beberapa pendapat dari para ahli maka dapat disimpulkan bahwa belajar adalah proses yang dilakukan oleh sesorang yang menghasilkan perubahan tingkah laku terhadap pengalaman yang dialaminya secara berulang-ulang dalam lingkungannya.
            Pada dasarnya mengajar merupakan suatu proses terjadinya interaksi antara guru dengan siswa melalui kegiatan terpadu dari dua bentuk kegiatan yakni kegiatan belajar siswa dengan kegiatan mengajar guru. Mengajar pada hakekatnya adalah usaha yang direncanakan melalui pengaturan dan penyediaan kondisi yang memungkinkan siswa melakukan berbagai kegiatan belajar seoptimal mungkin (Sudjana, 1998: 43).
            Alvin dan Roestiyah (1989: 12) mendefinisikan mengajar sebagai suatu aktivitas untuk mencoba, membimbing siswa untuk mendapatkan, mengubah atau mengembangkan keahlian (skill), sikap (attitudes), cita-cita (ideals), penghargaan ( appreciations), dan pengetahuan (knowledge). Maksudnya bahwa guru harus mampu membawa perubahan yang baik untuk mengubah tingkah laku siswa.
            Burton dalam Rusyan (1994: 26) berpendapat bahwa mengajar merupakan upaya dalam memberikan rangsangan (stimulus), bimbingan, pengarahan, dan dorongan kepada siswa agar terjadi proses belajar. Lebih lanjut Burton dalam Rusyan ( 1994: 27) mengemukakan bahwa pelajaran hanya merupakan bahan perangsang saja, sementara arah yang dituju oleh proses belajar adalah tujuan pengajaran yang diketahui siswa.
            Mengajar pada prinsipnya adalah membimbing siswa dalam belajar mengajar. Dapat pula dikatakan bahwa mengajar merupakan suatu usaha mengorganisasi lingkungan dalam hubungannya dengan anak didik dan bahan pengajaran sehingga menimbulkan terjadinya proses belajar pada diri siswa. Pengertian ini mengadung makna bahwa, guru di tuntut untuk dapat berperan sebagai organisator kegiatan belajar siswa yang mampu memanfaatkan lingkungan, baik yang terdapat di dalam kelas maupun di luar kelas (Usman, 1993: 6).
             Beberapa pendapat ahli tentang mengajar, dapat dikatakan bahwa mengajar merupakan suatu aktivitas yang direncanakan untuk mencoba membimbing dan mengarahkan siswa dalam proses belajar mengajar.

Tidak ada komentar:

Kisah Mata Air Keabadian

Kisah ini diriwayatkan oleh Ats-Tsa’labi dari Imam Ali ra. Pada zaman dahulu hiduplah seorang hamba Allah SWT yang melebihkan kepada d...