Senin, 12 Mei 2014

Psikologi Perkembangan Peserta Didik I Perkembangan Resiliensi Peserta Didik I Pengertian Resiliensi




Istilah resiliensi diintrodusir oleh Redl pada tahun 1969 dan digunakan untuk menggambarkan bagian positif dari perbedaan individual dalam respons seseorang terhadap stres dan keadaan yang merugikan (adversity) lainnya (Smet, 1994). Tetapi, hingga tahun 1980-an, istilah resiliensi belum digunakan secara konsisten (Grotberg, 1999). Istilah resiliensi diadopsi sebagai ganti dari istilah-istilah yang sebelumnya telah digunakan oleh para peneliti untuk menggambarkan fenomena, seperti: “invulnerable” (kekebalan), “invincible” (ketangguhan), dan “hady” (kekuatan), karena dalam proses menjadi resilien tercakup pengenalan perasaan sakit, perjuangan dan penderitaan (Henderson & Milstein, 2003).

Dewasa ini, meskipun istilah resiliensi telah diterima dan digunakan secara luas, namun tidak berarti terdapat kesesuaian dalam memberikan definisi tentang resiliensi itu. Hingga kini definisi tentang resiliensi masih terus dipermasalahkan dan bahkan belum ada konsesnsus tentang cakupan wilayah dari konstruk resiliensi, seperti ciri-ciri dan dinamikanya (Kaufman, dkk., 1994). Di samping itu, bahasa yang digunakan di beberapa negara juga tidak memiliki padanan kata tentang resiliensi. Dalam bahasa Spanyol misalnya, tidak ada kata yang digunakan dalam literatur psikologi untuk resiliensi, sehingga sebagai gantinya digunakan istilah “la defensa ante la adversidad” (Grotberg, 1995). Literatur-literatur psikologi yang ditulis dalam bahasa Indonesia juga sama sekali belum menyinggung konsep resiliensi, sehingga sulit untuk mencari padanan kata yang cocok untuk menggambarkan konsep tersebut. Kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, pengertian resiliency malah mungkin akan membingungkan, seperti gaya pegas, daya kenyal, kegembiraan, keuletan (Echols & Shadily, 1997), ketahanan (Smet, 1994), dan daya lentur (Siregar, 2001). Karena itu, agar tidak menimbulkan kesalahpahaman, maka dalam uraian ini penulis sengaja menggunakan istilah aslinya dan merubahnya ke dalam bahasa Indonesia menjadi “resiliensi”.

Meskipun belum ada kesamaan pendapat mengenai definisi resiliensi, namun untuk memahami konsep tersebut dapat dikutip beberapa definisi yang telah dirumuskan oleh sejumlah ahli.

Grotberg (1999: 10) secara sederhana mengartikan resiliensi sebagai “the human capacity to face, overcome, be strengthened by, and even be transformed by experiences of adversity”. Sedangkan Werner (2003: 7) mendefinisikan resiliensi sebagai “the capacity ti spring back, rebound, succesfuly adapt in the face of adversity, and develop social, academic, and vocational competence despite exposure to severe stress or simply to the stress that is inherent in today’s world.” Sementara itu, Ricahrdson, dkk., (1990: 7) mendefinisikan resiliensi sebagai “the process of coping with disruptive, stressful, or challenging life events in way that provides the individual with additional protective and coping skills than prior to the disruption that result from the event.”

Dalam International resilience Project (dalam grotber, 1997: 2), resiliensi diartikan sebagai “a universal capacity which allows a person, group or community to prevent, minimize or overcome the damaging effects of adversity Resilience may transform or make stronger the lives of those who are resilient. The resilient behavior may be in responsse to adversity, or a promoter of frowth beyond the present level  of functioning. Further; resilience may be promoted not necessarily because of adversity, but, indeed, may be developed in anticipation of inevitable adversities”.

Kemudian, rirkin dan Hoopman, 1991 (dalam Henderson & Milstein, 2003), merumuskan definisi tentang resiliensi yang secara khusus ditujukan pada siswa dan pendidik, yang berisikan elemen-elemen pemabangunan resiliensi di sekolah, yaitu: “the capacity to spring back, rebound, succesfully adapt in the face of adversity, and develop social, academic, and vocational competence despite exposure to severe stress or simply to the stress that is inherent in today’s world.”

Dari beberpa definisi di atas dapat dipahami bahwa resiliensi (daya lentur, ketahanan) adalah kemampuan atau kapasitas insani yang dimiliki seseorang, kelompok atau masayarakat yang memungkinkannya untuk menghadapi, mencegah, meminimalkan dan bahkan menghilangkan dampak-dampak yang merugikan dari kondisi yang tidak menyenangkan, atau mengubah kondisi kehidupan yang menyengsarakan menjadi suatu hal yang wajar untuk diatasi. Bagi mereka yang resilien, resiliensi membuat hidupnya menjadi lebih kuat. Artinya, resiliensi akan membuat seseorang berhasil menyesuaikan diri dalam berhadapan dengan kondisi yang tidak menyenangkan, serta dapat mengembangkan kompetensi sosial, akademis dan vikasional sekalipun berada di tengah kondisi strees hebat yang inheren dalam kehidupan dunia dewasa ini (Desmita, 2005).

Menurut Emmy E. Werner (2003), sejumlah ahli tingkah laku menggunakan istilah resiliensi untuk menggambarkan tiga fenomena: (1) perkembangan positif yang dihasilkan oleh anak yang hidup dalam konteks “beresiko tinggi” (high-risk), seperti anak yang hidup dalam kemiskinan kronis atau perlakuan kasar orangtua; (2) kompetensi yang dimungkinkan muncul di bawah tekanan yang berkepanjangan, seperti peristiwa-peristiwa di sekitar perceraian orangtua mereka; dan (3) kesembuhan dari trauma, seperti ketakutan dari peristiwa perang saudara dan kamps konsentrasi.

Meskipun resiliensi merupakan kapasitas individual untuk bertahan dalam situasi yang stressfull, namun tidak berarti bahwa resiliensi merupakan suatu sifat (traits), melainkan lebih merupakan suatu proses (process). Kita memang tidak dapat menyangkal bahwa beberapa individu memiliki kecendrungan genetik yang memberi sumbangan bagi resiliensinya, seperti watak sosial, sifat ramah, dan kecantikan fisik, namun kebanyakan dari karakteristik yang dihubungkan dengan resiliensi dapat dipelajari (Higgins, 1994; Werner & Smith, 1992).

     
Sumber : Psikologi Perkembangan Peserta Didik, Desmita

Tidak ada komentar:

Kisah Mata Air Keabadian

Kisah ini diriwayatkan oleh Ats-Tsa’labi dari Imam Ali ra. Pada zaman dahulu hiduplah seorang hamba Allah SWT yang melebihkan kepada d...