Dari
beberapa temuan dan pendapat mengenai aktivitas belajar menyebutkan bahwa
pengajaran efektif adalah pengajaran yang menyediakan kesempatan belajar
sendiri atau melakukan aktivitas sendiri. Dalam pengajaran tradisional asas aktivitas juga
dilaksanakan namun aktivitas tersebut bersifat semu. Pengajaran modern tidak
menolak seluruhnya pendapat tersebut namun lebih menitik beratkan pada asas
aktivitas sejati. Siswa belajar sambil bekerja dan memperoleh pengetahuan,
perubahan dan aspek-aspek tingkah laku lainnya, serta mengembangkan
keterampilan yang bermakna untuk hidup dimasyarakat.
Aktivitas
belajar diartikan sebagai suatu kegiatan yang dilakukan oleh siswa dalam
pelaksanaan proses pembelajaran, dimana siswa berkerja atau berperan aktif
dalam pembelajaran, sehingga dengan demikian siswa tersebut memperoleh
pengetahuan, pengalaman, pemahaman dan aspek-aspek lain tentang apa yang ia
lakukan Hamalik(2003 : 172).
Menurut
Paul D. Dierich dalam Hamalik (2003: 174) membagi aktivitas atau kegiatan
belajar kelompok menjadi 8 yaitu :
1. Kegiatan visual, seperti membaca, melihat
gambar-gambar, mengamati eksperimen, demonstrasi, pameran, mengamati orang lain
bekerja atau bermain.
2. Kegiatan-kegiatan lisan, seperti
mengemukakan fakta atau prinsip, menghubungkan suatu kejadian, mengajukan
pertanyaan, memberi saran, mengemukakan pendapat, wawancara, diskusi dan
interupsi.
3. Kegiatan-kegiatan mendengarkan, seperti
mendengarkan penyajian bahan, mendengarkan percakapan atau diskusi kelompok,
mendengarkan suau\tu permainan, mendengarkan radio.
4. Kegiatan-kegiatan
menulis, seperti menulis cerita, menulis laporan, memeriksa karangan,
bahan-bahan kopi, membuat rangkuman, mengerjakan tes dan mengisi angket.
5. Kegiatan-kegiatan
menggambar, seperti menggambar, membuat grafik, chart, diagram, peta dan pola.
6. Kegiatan-kegiatan
metrik, seperti melakukan percobaan, memilih alat-alat, melaksanakan pameran,
membuat model, menyelenggarakan permainan, menari dan berkebun.
7. Kegiatan-kegiatan
mental, seperti merenungkan, mengingat, memecahkan masalah, menganalisis,
melihat, hubungan-hubungan, dan membuat keputusan.
8. Kegiatan-kegiatan emosional,
seperti minat, membedakan, berani, tenang dan lain-lain.
Penggunaan asas aktivitas besar nilainya
bagi pengajar, karena siswa mencari pengalaman sendiri dan langsung mengalami
sendiri, berbuat sendiri, memupuk kerja sama yang harmonis di kalangan siswa,
siswa bekerja sesuai dengan minat dan kemampuan siswa, memupuk disiplin keras,
mempererat hubungan sekolah dan masyarakat, dan hubungan antara orang tua
dengan guru.
Asas
aktivitas digunakan dalam semua jenis metode mengajar, baik metode dalam kelas
maupun metode mengajar diluar kelas. Hanya saja penggunaannya dilaksanakan
dalam bentuk berlainan sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai Hamalik (2003:
175-176).
Peneliti
berkesimpulan bahwa aktivitas belajar adalah segala kegiatan yang dilakukan
dalam proses interaksi (guru dan siswa) dalam rangka mencapai tujuan belajar.
Aktivitas yang dimaksudkan di sini penekanannya adalah pada siswa, sebab dengan
adanya aktivitas siswa dalam proses pembelajaran terciptalah situasi belajar
aktif, seperti yang dikemukakan oleh Rochman Natawijaya dalam Depdiknas, 2005:
31, belajar aktif adalah “Suatu sistem belajar mengajar yang menekankan
keaktifan siswa secara fisik, mental intelektual dan emosional guna memperoleh
hasil belajar yang berupa perpaduan antara aspek kognitif, afektif dan
psikomotor”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar